Baka adalah perangkat pertanian tradisional yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan beras yang telah bebas dari sekam. Alat ini telah ada dan dikembangkan oleh penduduk Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sejak sekitar abad ke 17 sebagai bagian dari alat yang digunakan dalam proses pengelolaan dan penyimpanan hasil panen padi. Dari segi bentuk, baka terlihat seperti keranjang atau wadah dengan berbagai ukuran, yang terbuat dari anyaman bambu yang kuat namun ringan. Rancangan anyaman bambu tersebut memungkinkan sirkulasi udara yang optimal sehingga beras yang disimpan di dalamnya tetap kering dan kualitasnya terjaga. Dalam penggunaannya, baka dipakai oleh masyarakat untuk menampung beras setelah dilakukan proses penampi dan pembersihan. Keberadaan alat ini mencerminkan kebijaksanaan lokal penduduk Sumbawa dalam memanfaatkan sumber daya alam seperti bambu untuk membuat peralatan rumah dan pertanian yang praktis serta tahan lama.
Baka is a functional traditional agricultural device as a place to store rice that has been free from husk. This tool already exists and was developed by the population Sumbawa Island, West Nusa Tenggara, since around the 19th century 17 as part of the tools used in the process management and storage of rice harvests. In terms of shape, baka looks like a basket or container with various sizes, made from woven bamboo strong but light. The woven bamboo design allows optimal air circulation so that the rice what is stored in it remains dry and of good quality awake. In its use, baka is used by community to accommodate the rice after it is done winnowing and cleaning process. The existence of this tool reflects the local wisdom of the Sumbawa people in utilizing natural resources such as bamboo to make home and agricultural equipment practical and durable.