Administrator
10 April 2026
1
19
Tope Pene

Tope Pene adalah kain sarung atau rok yang digunakan oleh remaja putri atau wanita muda dalam busana adat Sumbawa. Perbedaan utamanya dengan Tope Belo terletak pada cara pemakaian dan panjangnya. Jika Tope Belo menjuntai hingga mata kaki, Tope Pene biasanya dipakai dengan cara dililit atau dilipat sedikit lebih tinggi (setinggi betis atau sedikit di bawah lutut). Tope Pene adalah pasangan wajib dari Lamung Pene (baju kurung berlengan pendek). Setelan ini merupakan busana khas untuk gadis remaja (Taruna Dadara) dalam upacara adat. Penggunaan Tope Pene memberikan kesan yang lebih lincah, dinamis, dan muda, sesuai dengan karakter remaja putri yang biasanya bertugas sebagai penari atau pendamping dalam prosesi adat. Sama seperti Tope lainnya, untuk acara resmi tetap menggunakan Kre Alang (tenun benang emas), namun untuk latihan tari atau acara harian bisa menggunakan kain tenun katun biasa.
ope Pene is a sarong or skirt worn by young girls or women in Sumbawa traditional attire. The main difference from Tope Belo lies in its wear and length. While Tope Belo hangs down to the ankles, Tope Pene is usually worn wrapped or folded slightly higher (calf-high or slightly below the knee). Tope Pene is a mandatory pairing with Lamung Pene (short-sleeved baju kurung). This outfit is typical attire for teenage girls (Taruna Dadara) in traditional ceremonies. Wearing Tope Pene gives a more agile, dynamic, and youthful impression, in accordance with the character of teenage girls who usually serve as dancers or escorts in traditional processions. Just like other Tope, Kre Alang (gold thread weaving) is still used for formal events, but for dance practice or daily events can use ordinary woven cotton.