Dibuat oleh tau boto “pandre reke” pada tahun 1808 M. Mimbar Lape merupakan salah satu benda bersejarah yang digunakan sebagai tempat khatib menyampaikan khutbah dalam kegiatan keagamaan. Mimbar ini dibuat oleh seorang pengrajin tradisional yang dikenal sebagai Tau Boto “Pandre Reke” pada tahun 1808 Masehi. Secara fisik, Mimbar Lape umumnya terbuat dari kayu yang dibentuk dan diukir dengan motif hias tertentu. Struktur mimbar dibuat bertingkat dengan bagian tempat berdiri bagi khatib saat menyampaikan khutbah kepada jamaah. Keberadaan ukiran pada bagian-bagiannya juga menunjukkan keterampilan seni ukir yang berkembang pada masa tersebut. Dalam konteks budaya dan keagamaan, Mimbar Lape memiliki nilai historis karena menjadi bagian dari perlengkapan penting dalam kegiatan ibadah di masjid. Selain itu, mimbar ini juga mencerminkan tradisi kerajinan kayu serta peran para pengrajin lokal dalam menghasilkan karya yang memiliki fungsi religius dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Made by Tau Boto "Pandre Reke" in 1808 AD. The Lape Pulpit is a historic object used as a place for preachers to deliver sermons during religious services. This pulpit was made by a traditional craftsman known as Tau Boto "Pandre Reke" in 1808 AD. Physically, the Lape Pulpit is generally made of wood shaped and carved with distinctive decorative motifs. The pulpit's structure is multi-tiered, with a standing section for the preacher to deliver the sermon to the congregation. The carvings on its parts also demonstrate the developing craftsmanship of the era. In a cultural and religious context, the Lape Pulpit holds historical value as it is an essential part of worship services in mosques. Furthermore, this pulpit also reflects the tradition of woodworking and the role of local craftsmen in producing works that have religious functions and cultural values passed down from generation to generation.