Tali bambu merupakan salah satu alat sederhana yang digunakan oleh masyarakat tradisional, khususnya dalam kegiatan pertanian di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Tali ini biasanya dimanfaatkan untuk mengikat hasil panen padi agar lebih mudah dikumpulkan, dibawa, dan disusun setelah proses pemanenan. Secara bentuk, tali bambu dibuat dari serat atau bilah bambu yang dipotong tipis kemudian dianyam atau dipilin sehingga menjadi lebih kuat dan lentur. Bahan bambu dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan sekitar serta memiliki daya tahan yang cukup baik untuk digunakan dalam berbagai kegiatan pertanian. Dalam penggunaannya, tali bambu digunakan untuk mengikat beberapa batang padi menjadi satu ikatan. Ikatan tersebut kemudian disusun atau dibawa oleh petani ke tempat penjemuran maupun penyimpanan. Selain sebagai alat bantu pertanian, penggunaan tali bambu juga mencerminkan pemanfaatan bahan alam secara sederhana dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat dalam kegiatan bercocok tanam.
Bamboo rope is a simple tool used by traditional communities, particularly in agricultural activities on Sumbawa Island, West Nusa Tenggara. This rope is typically used to tie up rice harvests to make them easier to collect, carry, and arrange after harvest. Bamboo rope is made from thinly cut bamboo fibers or slats, then woven or twisted to make them stronger and more flexible. Bamboo is chosen because it is readily available in the local environment and offers sufficient durability for use in various agricultural activities. Bamboo rope is used to tie several rice stalks into a single bundle. These bundles are then arranged or carried by farmers to drying or storage areas. Beyond being a farming tool, the use of bamboo rope also reflects the simple use of natural materials and is part of the local wisdom of the community in farming activities.